Teruntuk Dirimu
Teruntuk dirimu yang disana,
Hari ini aku melihatmu duduk disana, tertawa bersama teman-temanmu.
Entahlah, apa yang sedang engkau bicarakan. Tapi, tingkahmu membuatku
urung mendekatimu. Dan mengagalkan niat awalku. Meski aku tahu,
sebenarnya keinginanku untuk dirimu adalah baik. Bukan, aku bukan kecewa
terhadap dirimu, tapi aku takut kehadiranku mengganggu aktivitasmu. Dan
membuatmu marah padaku. Yang telah mengganggu kesenanganmu.
Teruntuk dirimu yang disana,
Jujur, sedikit rasa sedih dihatiku, apa yang sedang kamu pikirkan? Sikap
tak karuan dan tingkah yang tak bertujuan. Tapi kamu tetap saja disana.
Asyik dalam kegiatanmu. Tak peduli, diriku memperhatikanmu dari tadi.
Dantak sanggup memanggil namamu, dan membuatmu menoleh padaku. Sebab
aku khawatir, Aku hanya menjadi hama bagimu. Yang mengganggu dan terus
mengganggu.
Aku tak ingin membuatmu marah dan akhirnya tak lagi mau
mendengarkanku.
Untuk dirimu yang disana,
Bukan, bukan ku tak pernah mengajakmu bicara. Tapi sudah kucoba
berkali-kali, bahkan sering. Dengan perbendaharaan kata terbaik yang
kumiliki. Aku terus mengajakmu. Karena kuyakin, ini semua untuk
kebaikanmu. Semua akan kembali pada dirimu. Tapi kau tetap tak acuh
padaku. Dan menatap sinis padaku. Menganggap enteng semua ajakanku.
Ibarat angin lalu. Yang berhembus lalu pergi. Dan kau tetap tak 'kan
pernah peduli. Karena aku hanya datang mengganggumu.
Teruntuk dirimu yang disana,
Duh,.. seandainya kamu tahu apa yang 'kan kamu peroleh dari ini semua,
kamu tak akan membiarkan dan mengacuhkan ajakanku begitu saja. Karena
semua ini tak ada yang sia-sia. Tapi dirimu masih saja duduk disana,
menghabiskan waktumu dengan hal-hal yang tak berguna. Tertawa, bercanda
terlewat batas. Seperti telah lupa bahwa kau hanya mampir sementara. Tak
kan lama disini. Sebentar kau akan kembali. Apakah kau akan melepaskan
kesempatanmu untuk kebaikan berlalu begitu saja?
Duhai dirimu yang disana,
Tak tahukan kau? jika kau disini, banyak yang dapat kau peroleh.
Daripada hanya berkumpul melakukan hal-hal tak berguna dan kesenangan
sesaat yang kau sendiri tak mengerti apa maksud dan tujuannya. Terbuai
dalam kegiatanmu, kau telah membuang waktumu sia-sia. Dan aku masih tak
sanggup menghampirimu, memanggilmu, dan menagajakmu. Sebab, sudah kuajak
dirimu berkali-kali. Tapi kau mengingkarinya begitu saja. Acuh dengan
segala upayaku. Suaraku hanya terbawa angin lalu.
Duhai dirimu yang disana,
Apakah kau tidak tahu, bahwa hanya turut mendengarkan saja disini. Sayap
malaikat menaungimu. Ikan-ikan dilaut mendo'akanmu. Karena kau disini
dengan tujuan yang jelas. Dan tak hanya bermain-main. Betapa bahagianya
seandainya kau turut serta disini. Bersamaku dan yang lainnya. Tapi
sayang, dirimu masih saja tak acuh padaku.
Teruntuk dirimu yang disana,
Mengapa hari ini kau masih saja asyik dalam duniamu. Tak sedikitmpun mau
menoleh padaku. Sungguh, aku mengajakmu bukan tanpa tujuan, tapi karena
aku peduli padamu. Dan ingin engkau juga dapat bersamaku, mengumpulkan
kebaikan sebanyak-banyaknya. Aku tak peduli, apakah dirimu akan
mencaciku, membentakku, atau bahkan memusuhiku. Jika kau memang tidak
menyukai apa yang kuajak. Tapi kau harus tahu, bahwa kulakukan semua ini
untukmu, demi kebaikanmu. Karena ini adalah majlis dzikrullah. Bukan
majlis yang tak bertujuan dan hanya berisi tertawaan.
Teruntuk dirimu yang disana,
Apakah kau tak pernah menyadari, betapa Allah sangat mencintaimu. Dia
tak pernah berhenti memberimu makan, walau kau selalu mengingkari-Nya
dan membangkang pada-Nya. Dia-lah yang memberi udara untuk pernafasanmu,
dan tak pernah meminta sepeserpun bayaran padamu. Dia tak pernah
meminta padamu, kecuali itu untukmu juga. Ibadah yang kau lakukan,
dinilai kebaikan dan kembali padamu. Padahal jasad yang kau pakai adalah
milik-Nya, tapi kau selalu saja tak menyadarinya. Dia bisa dengan mudah
menarik nyawa yang ada dalam dirimu. Karena jelas.! itu bukan milikmu.
Apa kau merasa telah membuatnya. Lalu... Apa yang kau banggakan?
Teruntuk dirimu yang disana,
Diriku hanya ingin kau tahu, semua ini untukmu juga. Karena kau numpang
dibumi-Nya juga, maka kau harus mengikuti aturan yang ditetapkannya. Dan
aku ingin kau tahu, bahwa aku tak ingin berhenti mengajakmu, walau
akhirnya kata kasar keluar dari lisanmu. Aku hanya ingin melihatmu lebih
baik dari sekarang, dan berlomba bersamaku mencari Ridho ILAHI..